Pemuda:Ujung Tombak Indonesia Menghadapi MEA Desember 2015
Karya : Rama Hidayat Saputra
Kita sebagai kaum pemuda harus selalu tampil dalam setiap momentum, bukan sebagai objek suatu peristiwa melainkan sebagai subjek perubahan, yang mendorong setiap perubahan kearah yang konstruksi serta menjadi kekuatan moral yang mengawali setiap perjalanan dan pembangunan bangsa. Sesuai UU No. 40/2009 tentang kepemudaan, dimana fungsi pemuda adalah sebagai agen perubahan. Masalah utama yang harus mendapat perhatian dalam peran strategis adalah tantangan ASEAN community 2020 yang dimulai dari penerapan MEA 2015. Komunitas ASEAN ini adalah kesepakatan tentang 'komunitas tunggal' ASEAN yang muncul dalam KTT ASEAN di Bali 2003 yang menghasilkan 'Bali Concord II'. 'Kesepakatan Bali II' dipandang sebagai langkah strategis menuju keseimbangan baru di antara negara-negara ASEAN, yang mencakup beberapa prinsip pokok pemeliharaan stabilitas regional yang memungkinkan percepatan pertumbuhan ekonomi, penguatan dan konsolidasi demokrasi, peningkatan penghormatan pada hak asasi manusia, dan penguatan tata kelola pemerintah yang baik dan penegakan supremasi hukum. Bentuk perdagangan antar negara ASEAN ini dinilai dapat memberi manfaat atau keuntungan ataupun dapat menjadi dua mata pisau sekaligus bagi Indonesia. Namun tergantung bagaimana persiapan dari pemerintahan Indonesia dan penduduk Indonesia sendiri untuk menghadapi MEA.
Berbicara mengenai pemuda, pada hakikatnya pemuda adalah manusia emas dalam suatu kehidupan serta pemegang esktafed kemajuan bangsa di masa yang akan datang karena para pemudalah yang lebih tajam dan menyukai tantangan yang lebih ekstrim dibandingkan dengan manusia dimasa yang lain. Kepekaan didalam menyelesaikan masalah ekonomi yang terjadi di Indonesia saat ini, inflasi, serta semakin meningkatnya kuantitas kemiskinan yang begitu tajam, membuat kondisi ekonomi indonesia semakin terpuruk, oleh karena itu peran pemuda sangatlah penting dalam upaya penyelamatan ekonomi di Indonesia saat ini.
Generasi muda harus menguasai betul bidang yang menjadi minatnya dalam dunia kerja. Pemuda Indonesia perlu ditanamkan dan di kembangkan jiwa kewirausahaannya (Entrepeneur Skill). Diharapkan dengan penanaman Entrepeneur Skill sejak dini, pemuda Indonesia mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi indonesia dimasa depan dan dan juga pemuda Indonesia harus memiliki kreatifitas yang tinggi, karena dunia kreatifitas sangat di perlukan untuk menyongsong MEA 2015, apalagi perdagangan bebas tidak dapat dihindarkan lagi. Bila pemuda masih berpangku tangan untuk tidak melakukan inovasi apalagi kreasi, otomatis masa depan bangsa ini akan semakin terkubur hidup-hidup oleh negara tetangga yang sudah siap secara ide, praktek bahkan materi. Jadi apa yang harus ada dalam imajinasi dan persepsi Pemuda sekarang? Apakah sudah banyak yang “list” untuk langkah awalnya? Konsep, praksis, dan konsekuensinya yang harus ditanggung, atau hanya sekedar ikut arus? Pemuda sebagai agen perubahan harus berani keluar dari pikiran zona nyaman, atau hanya menjadi penonton teater kemajuan. Dengan adanya tantangan dalam menghadapi MEA 2015 ini, hal yang harus dipersiapkan oleh generasi muda adalah melatih diri, mengembangkan kemampuan diri dalam memanfaatkan moderenisasi seperti internet, berbagai macam seminar, pelatihan, dan workshop. Tapi sebelum itu kita harus membuat langkah awal. Langkah awalnya kita harus berpertanyakan terlebih dahulu kepada diri kita adalah:
1. Sudahkan kita memiliki daya tahan “fortitude” ?: Yakni kepribadian yang mengandalkan daya tahan diri dengan melingkapi sikap mental, keberanian, kesabaran (patience), kegigihan ketabahan hati, dan percaya diri (self confidence)
2. Sudahkah kita memiliki kemampuan mengendalikan diri (self control)
Pengendalian diri menjadi penting, karena era globalisasi memberikan bermacam- macam pilihan. Jika orang tergoda akan kehilangan jati diri, bahkan akan menjadi obyek daripada subyek. Manusia akan menjadi bulan-bulanan era globalisasi, bersikap tidak fokus, dan cenderung mengikuti pusaran, giliran yang menakutkan adalah kehilangan kontrol diri. Lalu setelah memiliki semua pertanyaan itu didalam diri kita maka langkah selanjutnya harus dimiliki yaitu kemampuan melakukan evaluasi dan Kemampuan Melakukan Analisa. Kemampuan melakukan evaluasi diperlukan untuk meneropong kondisi eksternal dan internal dalam mengembangkan wawasan yang cerdas dalam menghadapi suatu masalah, karena evaluasi secara internal selalu diawali oleh langkah “mawas diri” sedangkan evaluasi eksternal membangun masa depan dengan “olah budi”. Evaluasi diri akan melahirkan “instrospeksi” dan evaluasi eksternal akan melahirkan “studi banding” kemampuan ini mensinergi untuk proaktif terhadap kemajuan. Tanpa kemampuan melakukan evaluasi akan buta terhadap kemajuan. Kemampuan Melakukan Analisa yaitu bentuk kemampuan yang menandai sikap kedewasaan, yakni sebuah sikap dalam menatap masa depan dengan berorientasi pada cara-cara bijak. Dengan kemampuan ini akan menajamkan visi seorang orang terhadap tantangan, walaupun tantangan tersebut memilki resiko yang tinggi. Nah setelah langkah awal tadi telah dimiliki maka secara otomatis dapat menimbulkan rasa berani dalam mengambil resiko tinggi untuk membuat perubahan yang mampu mengatasi dan menghadapi MEA 2015 ini. Bahkan jika seluruh individu seorang pemuda Indonesia memiliki ini semua kemungkinan besar Bangsa Indonesia akan lebih baik dari pada sekarang.
Tetapi faktanya saat ini pemuda banyak yang mengalami stagnansi dan distorsi peran mereka sebagai pemuda. Pemuda banyak kehilangan kehilangan, buta akan realita sosial yang ada, ditambah dengan perilaku individualis, pragmatis, konsumtif dan kurang rasa nasionalisme yang menyebabkan menurunnya citra daya saing pemuda sebagai tonggak inovasi dan kedigdayaan suatu bangsa. Banyak pemuda kini yang mengaku peduli bangsa, namun hanya sekedar omongan belaka, bahkan merendahkan bangsa sendiri. Kritik yang disampaikan hanya berujung pada menjelekkan pemerintah, merendahkan penguasa, dan sibuk mencari kesalahan. Kita semakin kehilangan teladan yang intens memecahkan permasalahan kompleks di sekitar, terlebih memikirkan kemajuan bangsa. Semakin langka mereka yang terus gelisah saat melihat anak-anak jalanan kelaparan, membanggakan nama Indonesia di forum-forum internasional, dan bergerak membantu saat masih banyak orang miskin yang tidur di bawah jembatan. Untuk itu dibutuhkan suatu perubahan atas cara pandang pemuda yang dibawa pada sebuah langkah praktis untuk meningkatkan daya saing global.
Sebagai pemuda Indonesia mari kita membangun sebuah pola pikir dan mental yang baik yang diwujudkan dalam sebuah langkah nyata yang mampu membantu menciptakan kedigdayaan bangsa ini. Komitmen pemerintah untuk mewadahi dan mengelola kaum muda agar menjadi faktor atau motor pertumbuhan daya saing melalui penegasan kecintaan terhadap tanah air, bangsa dan bahasa merupakan modal dasar untuk mempersatukan gagasan, tujuan dan perjuangan pemuda dalam mewujudkan kedaulatan, kemandirian dan kejayaan Indonesia. Mungkin sejenak kita harus lebih peka. Peka pada keadaan yang masih belum sempurna. Lebih banyak membaca masa lalu melalui buku-buku, menyusun rancangan masa depan dari pembelajaran yang telah lalu. Dengan begitu, nantinya diharapkan kita mampu bersaing dan siap menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 serta memberikan dampak dan peran yang besar bagi kemajuan bangsa, asalkan disertai dengan sejumlah upaya persiapan yang matang di segala sektor kehidupan, demi Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar