Laman

Senin, 28 Desember 2015

JUARA III Lomba Artikel

MENGOPTIMALKAN PERANANPEMUDA INDONESIA DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) : BIDANG EKONOMI

Karya: Misbahul Munir

Bangsa Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan yang sangat besar. Daya saing Indonesia dalam berbagai bidang terus mengalami penurunan. The Global Competitivness Index 2012-2013, melaporkan Indonesia menempati posisi ke-50 dari 144 negara di dunia dengan skor 4,4, atau turun 4 level dari tahun sebelumnya yang berada di posisi 46. Laporan data ini mengamini realitas sumber daya manusia Indonesia, khususnya kaum muda. Pemuda Indonesia saat ini banyak yang mengalami stagnasi dan distorsi akibat disorientasi. Para kaum muda telah kehilangan elan vitalnya sebagai agent of change bagi kebangkitan bangsa. Kepekaan sosial mereka terus terdegradasi dan cenderung buta akan realitas sosial, ditambah lagi dengan perilaku individualis, pragmatis, hedonis dan konsumtif yang menyebabkan semakin menurunnya daya saing pemuda kita, yang digadang-gadang sebagai tonggak inovasi dan kedigdayaan bangsa dimasa mendatang.

Ironisnya, di kawasan Asia daya saing Indonesia berada pada posisi ke 40, posisi ini sedikit lebih baik dari Filipina di urutan 59 dan Vietnam dengan rating 70, Laos 80, Kamboja 88 dan Myanmar bertengger diurutan 139. Indonesia masih berada di bawah Thailand yang berada pada posisi 37, Brunai Darussalam pada posisi 26, dan Malaysia di peringkat ke 24. Data ini menunjukkan posisi tawar daya saing Indonesia sedikit lebih mengkhawatirkan jika dibandingkan negara tetangga. Betapa negara yang besar ini kalah kompetitif dengan negara tetangga yang secara defacto sumber daya alamnya lebih sedikit.

Indonesia masih mempunyai daya saing kurang progresif yang kemudian malah dicederai dengan ketidakmerataan kreatifitas pemuda disemua lini tingkatan pendidikan. Hal ini sangat mengkhawatirkan bagi sebagian kalangan Intelektual muda yang notabene sering menggembor-gemborkan gerakan kreasi dan inovasi. Sejatinya, bangsa kita sebenarnya mempunyai kesempatan emas untuk bangkit dibandingkan dengan negara tetangga.

Merilis data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015, jumlah pemuda Indonesia mencapai 6,62 juta jiwa, atau rata-rata 25 persen dari proporsi keseluruhan jumlah penduduk. Jika menilik pada data tersebut, kekuatan daya saing pemuda memegang peranan penting dan strategis dalam membawa arah perjalanan bangsa, termasuk dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean yang sudah di depan mata. Tindakan-tindakan nyata bagi para pemuda diharapkan mampu membakar semangat kebangkitan bangsa. Namun sayangnya, setelah ditinjau dari berbagai aspek kehidupan, nampaknya daya saing pemuda Indonesia belum bisa menunjukkan potensinya yang sebenarnya.

Keadaan ini memang cukup memprihatinkan. Mendapati kenyataan pahit bahwa saat ini rakyat Indonesia kehilangan uang sekitar USD 116 Miliar atau setara Rp.1.160 Triliun setiap tahunnya. Hilangnya potensi pendapatan tersebut disebabkan ketidakmampuan sumber daya manusia (SDM) Indonesia mengelola kekayaan negara. Pendapatan yang hilang itu berasal dari sektor industri dan sumber daya alam (SDA), sehingga Indonesia saat ini tengah mengalami gejala negeri yang semakin lemah. Lebih dari itu, gejala akut disorientasi terus menghantui masa depan pemuda Indonesia. Proyeksi data BPS menyebutkan, jumlah pemuda Indonesia pada tahun 2015 mencapai 62,6 juta jiwa. Artinya, jumlah pemuda rata-rata 25 persen dari proporsi jumlah penduduk keseluruhan. Merujuk data tersebut, pemuda memegang peranan penting dan strategis bagi arah perjalanan bangsa dimasa yang akan datang.

Urgensi Peranan Pemuda Indonesia Dalam Menyongsong MEA

Saat ini Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah ada di depan mata. MEA merupakan kesepakatan yang dilakukan oleh negara-negara anggota Asean, termasuk Indonesia di dalamnya, untuk menerapkan sisten perdagangan bebas antar negara anggota. Diperlukan langkah strategis yang tepat dalam memilih dan memilah antara peluang dan tantangan. Pemuda Indonesia harus memfokuskan diri pada aspek-aspek fundamental dan kronis tersebut. Sebab aspek-aspek tersebut berkontribusi dominan terhadap daya saing Indonesia dalam menghadapi semua hubungan ekonomi internasional.
Daron Acemoglu telah mewanti-wanti betapa urgennya kesiapan negara dalam menghindari kegagalan bidang ekonomi. Dalam bukunya “Why Nations Fail” (2012), menjelaskan sebuah negara berpotensi menjadi negara gagal akibat salah dalam pengambilan kebijakan, terlebih ketika gagal dalam membangun institusi bidang ekonomi. Para pengambil kebijakan harus ingat bahwa krisis di Uni Eropa dan Amerika Serikat terjadi juga akibat salah dalam mengambil kebijakan di masa lalu dan ketidakmampuan membaca perubahan situasi. Bukan tidak mungkin prediksi-prediksi manis mengenai Indonesia dimasa mendatang kandas akibat kesalahan perilaku pemimpin bangsa hari ini. Pemerintah perlu mamperhatikan dengan seksama strategi pemenuhan kebutuhan pemuda dalam menghadapi MEA.

Peranan pemuda sangatlah penting dalam menghadapi MEA diakhir 2015 mendatang. Mengingat pemudalah tonggak perubahan bagi suatu bangsa. Wajah Indonesia di masa mendatang bisa dilihat dari wajah pemuda Indonesia hari ini.

Dalam kajian literatur ekonomi Islam, pemuda merupakan aset yang sangat berharga dalam membangun perekonomian suatu bangsa. Imam Syafi’I selalu mengingatkan kita betapa pentingnya peranan pemuda dalam membangun bangsa. Menurutnya, pemuda pada hari ini adalah pemimpin dimasa yang akan datang (Naila Rohmaniyah, 2013).

Maka memperbaiki pemuda merupakan titik fokus yang harus dilakukan pemerintah Indonesia. Misalnya, bagaimana menekan pengangguran pemuda, menciptakan ide-ide kreatif dan solutif agar para sarjana memiliki keinginan tinggi untuk menjadi wirausahawan, serta mampu melakukan terobosan-terobosan inovasi lainnya. Indonesia harus mampu menghadapi tantangan di tingkat regional ASEAN, seperti era komunitas MEA 2015, harus diantisipasi bagaimana menyiapkan pemuda yang mampu bersaing di tingkat internasional dan jeli dalam mengenali peluang dalam pasar MEA.

Adapaun salah satu caramengoptimalkan peran pemuda dalam menghadapi MEA dibidang ekonomi adalah dengan memberdayakan pemuda Indonesia melalui penanaman dan pengembangan jiwa kewirausahaan (entrepreneur skill). Diharapkan dengan penanaman entrepreneur skill sejak dini, pemuda Indonesia mampu mendongkrak perekonomian nasional di masa depan terutamadalam menyongsong MEA 2015. Menghadapi pelbagai tantangan di atas, kita menaruh harapan besar terhadap pemuda sebagai pewaris masa depan bangsa. Intervensi kebijakan pemuda hari ini akan memberikan dampak bukan hanya 20 atau 30 tahun ke depan, namun bahkan bisa memberikan pengaruh pada generasi selanjutnya.

Kebijakan harus diarahkan pada perlunya pemuda memberdayakan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan Koperasi. Untuk merangsang pemuda berkontribusi dalam permberdayaan UMKM dan Koperasi salah satunya adalah dengan diberikan kebebasan dalam berkreasi dan berinovasi, pemberian selektif di mana kredit ini diberikan kepada peminjam yang ingin berwirausaha, pemberian penghargaan kepada wirausaha muda, dan pemberian pelatihan kewirausahaan sejak dini untuk para pemuda.

Asketisme Sebagai Langkah Strategis Dalam Mendidik Pemuda Indonesia

Diperlukan upaya serius untuk memperbaiki karakter generasi muda Indonesia saat ini. Sebab mereka adalah penentu kebijakan bangsa di masa mendatang. Penulis menawarkan konsep pendidikan asketisme dalam mengatasi masalah pemuda saat ini.

Dalam kamus bahasa Indonesia III, asketisme dimaknai sebagai pendidikan filosofis mengenai paham yang mempraktikkan kesederhanaan, kejujuran dan kerelaan berkorban.Filosof kenamaan Yunani, Plato, pernah menegaskan betapa pentingnya pendidikan asketisme bagi generasi muda dalam membangun peradaban bangsa. Pandangan Plato, asketisme tidak hanya sebagai sarana untuk melatih badan secara lahiriah. Lebih dari itu, untuk menyempurnakan jiwa mejadi pribadi yang merdeka seutuhnya (Ensiklopedia Nasional Indonesia, 1988: 364-385).

Dalam literatur kajian Islam, asketisme dimaknai sebagai ajaran tasawuf. Yakni pendidikan yang mengajarkan bagaimana medekatkan diri secara lebih pada Allah, dan melatih diri untuk mengekang nafsu daging.Menahan kesenangan-kesenangan nafsu duniawi atau mencabut diri sendiri dari kesenangan nafsu yang berlebihan.

Asketisme sangat penting bagi pembentukan karakter pemuda Indonesia. Pemuda Indonesia dalam menghadapi MEA perlu digembleng dengan pendidikan asketisme, yakni pengajaran akan kesederhanaan, kejujuran dan mental rela berkorban untuk kepentingan bangsa. Asketisme untuk generasi muda Indonesia bisa menjadi tameng yang dapat menjaga idealisme dan senantiasa bisa bertahan di tengah-tengah godaan pragmatisme yang semakin deras. Salah satu yang patut dievaluasi adalah persoalan pendidikan karakter yang menjadi sarana penting dalam menanamkan nilai-nilai kepemimpinan kebangsaan bagi para pemuda.

Pendidikan asketisme ini bisa diselenggarakan oleh lembaga-lembaga formal dan non formal yang memang didesain fokus untuk membangun pendidikan karakter pemuda bangsa, ataupun oleh lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan yang membawa misi transformasi nilai. Lembaga-lembaga tersebut harus dimaksimalkan dalam memainkan perannya untuk melakukan pembangunan kembali karakter kaum muda dengan karakter-karakter yang bersumber dari nilai-nilai luhur agama dan kebangsaan. Kelompok-kelompok idealis yang saat ini sangat minimalis, harus malakukan upaya konsistensi untuk membangun karakter budi luhur dan mulia, tanpa peduli pandangan mata sinis dan penuh keheranan.

Pendidikan asketisme dan peningkatan krativitas harus berjalan selaras dalam diri setiap generasi muda Indonesia, terlebih dalam menyongsong MEA yang sudah di depan mata. Apalagi perdagangan bebas sudah tidak mampu dihindari. Bila pemuda Indonesia masih tetap saja duduk manis berpangku tangan dan tidak berbenah memperbaiki karakter jati diri, tidak menciptakan inovasi dan juga kreasi, dapat dipastikan masa depan bangsa ini akan semakin terkubur hidup-hidup oleh negara tetangga yang kita nilai sudah siap secara ide, praktik dan bahkan materi.

Hendaknya pemuda Indonesia semakin sadar akan peranan pentingnya bagi kemajuan bangsa di masa mendatang. Dengan adanya perbaikan karakter melalui pendidikan asketisme, diharapkan pemuda Indonesia mampumengejawantahkan perannya dalam menyetir arah perjalanan bangsa Indonesia menuju kedigdayaan yang berdikari, terutama dalam bidang ekonomi. Semoga!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar